by

Mengenal Marsekal TNI Hadi Tjahjanto

Jakarta, Telaah Srategis Online – Sebelum dilantik sebagai Panglima TNI, dengan Keppres No.83 Tahun 2017, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto telah menempati sejumlah posisi penting.

Salah satunya, menjadi Sekretaris Militer Presiden Joko Widodo selama setahun. Setelah itu, ia menjadi Inspektur Jenderal di Kementerian Pertahanan. Tak lama kemudian, menjadi Kepala Staf TNI AU.

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto merupakan Panglima TNI kedua yang berasal dari angkatan udara. Sebelum Hadi, Djoko Suyanto pernah menjabat sebagai Panglima TNI pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, lahir di Malang, Jawa Timur, 8 November 1963. Usianya kini 54 tahun. Hadi lulus dari Akademi Angkatan Udara tahun 1986 dan Sekolah Penerbang TNI AU 1987.

Setelah lulus Akademi Angkatan Udara (AAU), Hadi mengawali kariernya di Skadron Udara 4 yang bermarkas di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur. Tugas Skadron Udara 4 adalah mengoperasikan pesawat angkut ringan untuk Operasi Dukungan Udara, SAR terbatas, dan kursus penerbang pesawat angkut.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. bersama Kapolri Jenderal Pol Prof. H. M. Tito Karnavian. Foto: Puspen TNI
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. bersama Kapolri Jenderal Pol Prof. H. M. Tito Karnavian. Foto: Puspen TNI

Adapun tugas Hadi saat itu adalah pilot pesawat angkut Cassa. Pada tahun 1993, kariernya meningkat menjadi Kepala Seksi Latihan Skadron Udara 4 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

Selepas itu, tahun 1996 ayah dua putra itu tidak lagi mengurusi pesawat angkut ringan. Dia berganti memimpin skadron pesawat angkut berat sebagai Komandan Flight Ops “A” Skadron Udara 32 Wing Udara 2 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

Pada tahun 2010, Hadi menduduki posisi sebagai Komandan Pangkalan Udara Adisumarmo. Setahun kemudian, dia menjabat tugas di luar TNI AU menjadi Perwira Bantuan I/Rencana Operasi TNI dan Sekretaris Militer Kementerian Sekretaris Negara.

Dua tahun setelah itu, Hadi yang berpangkat Kolonel dipercaya menjadi Direktur Operasi dan Latihan Badan SAR Nasional, lalu menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI AU (2013-2015).

Pada Juli 2015, Hadi ditugasi menjadi Sekretariat Militer Presiden Republik Indonesia dan pangkatnya naik menjadi Marsekal Muda. Pada bulan November 2016, Hadi dilantik menjadi Irjen Kementerian Pertahanan.

Cerdas Sejak Kecil

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sejak masa sekolah dikenal sebagai sosok yang cerdas. Teman-temannya semasa SMA mengakui kepandaian anak pertama dari pasangan Bambang Sudardo dan Nur Sa’adah itu karena selalu mendapat nilai ujian yang bagus.

Hadi yang semasa SMA mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) selain dikenal cerdas juga rakin mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

“Temannya di SMA kalau ketemu saya bilang, Hadi itu otakmya encer,” kata ayah Hadi, Bambang Sudardo, saat ditemui di Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang sebagaimana dikutip Kompas.com.
Bambang mengatakan, anaknya itu tergolong rajin belajar.

“Dia selalu berusaha fokus meskipun kalau belajar tidak lama waktunya,” kata Bambang sambil menambahkan, sejak kecil Hadi memiliki keinginan menjadi prajurit TNI, mengikuti jejak ayahnya yang juga prajurit TNI AU.

Setelah lulus SMA Negeri Lawang, Hadi masuk Akademi Angkatan Udara (AAU). Pada tahun 1986 dia lulus dan setahun kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Penerbang (Sekbang) TNI AU Yogyakarta.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. dan Kapolri Jenderal Polisi Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D memimpin “Apel Kesiapan TNI Membantu Tugas Polri Dalam Rangka Pengamanan Natal 2018, Tahun Baru dan Pemilu 2019”di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Jumat (30/11/2018). Foto: Puspen TNI
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. dan Kapolri Jenderal Polisi Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D memimpin “Apel Kesiapan TNI Membantu Tugas Polri Dalam Rangka Pengamanan Natal 2018, Tahun Baru dan Pemilu 2019”di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Jumat (30/11/2018). Foto: Puspen TNI

Sebagai penerbang pesawat ringan, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto ditempatkan di Skadron 4 Malang. Dia cukup lama berdinas di sana sebelum pindah dan menjadi Komandan Flight Ops A Flightlat Skuadron Udara 32 Wing 2.

Saat berpangkat perwira menengah, Hadi pernah menjadi Komandan Lanud Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah, pada 2010-2011 yang kemudian memberi kesempatan kepadanya untuk berinteraksi dengan Joko Widodo yang ketika itu menjadi walikota Solo.

Tentang penempatannya di Solo, ada cerita tersendiri. Pasalnya, semula Hadi ditempatkan sebagai komandan pangkalan di Husein Sastranegara, Bandung. Namun, entah kenapa, penempatan itu tidak jadi namun digeser ke Solo, sebuah penempatan yang kelak membawa keberuntungan bagi Hadi dalam perjalanan karirnya.

Pada tahun 2013, Hadi memperoleh promosi menjadi perwira tinggi dengan pangkat marsekal pertama. Dia ditunjuk menjadi Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara hingga tahun 2015, sebelum kemudian dipindahkan sebagai komandan Lanud Abdurrhaman Saleh, Malang.

Ketika terjadi pergantian Sekretaris Militer Presiden tahun 2015, Presiden Joko Widodo menarik Marsma Hadi untuk mengisi posisi tersebut hingga tahun 2016. Di sana, pangkatnya kemudian naik menjadi marsekal muda.
Pangkat itu kembali naik menjadi marsekal madya saat Hadi ditunjuk menjadi Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan.

Puncak pangkat tertinggi, marsekal bintang empat dia raih saat ditunjuk menjadi Kepala Staf TNI AU di awal 2017. Setelah itu, karirnya meningkat lagi dengan menjadi Panglima TNI.

Semula Biasa Biasa Saja

Tentang karir militer Hadi sebelum berpangkat perwira tinggi, menurut mantan Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama (Purn) TNI Dwi Badarmanto, terlihat biasa-biasa
saja. “Kalau lihat kariernya sebelum bintang satu, itu biasa-biasa saja,” ujar Dwi dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Sabtu (9/12/2017).

Keberhasilan Marsekal Hadi menjadi Panglima TNI, menurut Dwi merupakan sebuah langkah bagus dan bisa menjadi pendorong bagi para perwira muda lainnya bahwa siapa pun bisa menjadi panglima TNI.

Menurut Dwi, orang sempat melihat Hadi dengan sebelah mata saat masih menjadi penerbang pesawat angkut ringan, sebab umumnya pewira penerbang tempurlah yang dianggap memiliki karir cemerlang.

Pada 1988-1989 bahkan hingga tahun 2000, kata Dwi, tidak ada yang menyangka Hadi bisa menjadi pemimpin tertinggi TNI.

“Pak Hadi dari penerbang pesawat angkut ringan, orang sudah melihat sebelah mata, tapi Tuhan berkata lain,” tuturnya.

Keterangan redaksi

Artikel yang ditulis Zackir L. Makmur dan Rajab Ritonga ini telah tayang di Majalah Telaah Strategis EDISI 136 Desember 2017. Diterbitkan ulang dalam bentuk digital agar memudahkan pembaca mengaksesnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru