by

Kisah Endro S. Efendi, Wartawan Mengikuti PPRA LVII

Jakarta, Telaah Srategis Online – Endro S. Efendi, Direktur Suratkabar Berau Post sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur terpilih sebagai peserta PPRA LVII Lemhannas RI. Sebagai wartawan, dia mengikuti jejak para seniornya di PWI mengikuti pendidikan bagi para calon pemimpin tingkat nasional bergengsi itu.

Berikut ini adalah tulisannya terkait rasa gembira bisa diterima menjadi peserta PPRA LVII yang pernah diterbitkan Berau Post:

Saya harus beradaptasi dengan hal baru. Orang baru, suasana baru, juga ilmu baru di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia (RI), demikian lembaga pendidikan kepemimpinan tingkat nasional ini disebut.
Lembaga yang didirikan di era Presiden Soekarno ini, memang sengaja disiapkan untuk mencetak kader-kader pemimpin nasional masa depan. Fokus utamanya agar para pemimpin bangsa ini tetap mengutamakan Pancasila dan mengedepankan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Jujur, awalnya saya juga tidak tahu apa itu Lemhannas. Yang saya tahu, instansi ini letaknya bersebelahan dengan Gedung Dewan Pers, di Jalan Kebon Sirih Jakarta.

Pertengahan 2017 lalu, saya pernah mengikuti ujian sebagai penguji kompetensi wartawan, di sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Kantor PWI ini berada di lantai 4, Gedung Dewan Pers.

Karena bertepatan dengan hari Jumat, saya pun menuju Masjid Jenderal Sudirman di kompleks Lemhannas RI.

Usai salat Jumat, saya langsung ingat teman saya, salah satu dosen Unmul yang ikut pendidikan Lemhannas.

Segera saya kontak beliau, dan ternyata benar, sedang ada di mess. Kami pun jumpa, bahkan saya pun diperkenalkan dengan salah satu pejabat Lemhannas untuk sekadar bincang-bincang.

Dari sinilah saya akhirnya tahu, apa itu Lemhannas dan diberi tahu pula syarat apa saja yang harus dipenuhi bagi warga negara yang ingin mengikuti pendidikan di tempat ini. Saya pun disarankan ikut Lemhannas melalui jalur organisasi profesi.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, saya segera kembali ke kantor PWI dan menanyakan soal undangan pendidikan dari Lemhannas. Ternyata benar, ada undangan lengkap dengan persyaratan apa saja yang harus dilengkapi untuk mendaftar.

Saya langsung mengajukan diri untuk ikut pendidikan Lemhannas kepada Sekretaris Jenderal PWI Pusat Hendry Ch Bangun.

“Silakan, terbuka bagi siapa saja. Nanti Lemhannas yang menyeleksi, lolos atau tidaknya,” kata beliau ketika itu.
Sepulang dari Jakarta, di Samarinda saya langsung melengkapi semua berkas persyaratan yang diminta. Setelah itu, saya pasrah dan menunggu perkembangannya.

Beberapa saat kemudian, saya mendapat kabar dari staf sekretariat PWI Pusat bahwa saya diundang untuk mengikuti psikotes dan tes potensi akademik di Lemhannas.

Kata staf sekretariat PWI ini, sebenarnya ada anggota PWI lainnya yang juga mendaftar di Lemhannas, namun hanya nama saya yang diundang.

Saya pun harus kembali ke Jakarta, mengikuti tes potensi akademik hingga psikotes. Tes diikuti 115 calon peserta Lemhannas dari unsur TNI, Polisi, hingga aparatur sipil negara dan dari unsur organisasi profesi serta organisasi masyarakat.

Baru kali itu saya menjalani tes yang sangat ketat dan rumit. Selama dua hari, tes dilakukan secara intensif dari pagi sampai sore hari. Melihat kualitas tes itu, saya hanya bisa pasrah dan tidak mau memaksakan hasilnya. Namun, tetap berdoa agar diberikan hasil terbaik.

Alhamdulillah, ternyata saya diberikan kesempatan sebagai peserta didik di Lemhannas dan tergabung dalam Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) ke-57 atau biasa dituliskan PPRA LVII.

PPRA LVII ini diikuti 100 orang, terdiri dari 91 laki-laki dan 9 peserta wanita. Di dalamnya meliputi 21 orang dari TNI Angkatan Darat, 9 dari TNI Angkatan Laut, dan 8 orang dari TNI Angkatan Udara. Selanjutnya dari unsur kepolisian sebanyak 20 orang, dan dari kejaksaan agung 1 orang.

Disusul dari kementerian 11 orang, serta lembaga pemerintah non kementerian 8 orang. Ada lagi unsur dari legislatif 2 orang dan dari organisasi masyarakat 11 orang, serta dari partai politik 2 orang.

Terakhir unsur dari negara sahabat ada 7 orang. Masing-masing dari negara Malaysia, Singapura, Timor Leste, Nigeria, dan Bangladesh.

Selama seminggu, sejak 20 Februari 2017 saya harus menjalani masa pengenalan atau orientasi kampus. Berkenalan dengan para tutor, terdiri atas tenaga ahli pengajar, tenaga ahli pengkaji, dan tenaga ahli profesional.

Sejak itu pula, saya bisa jumpa peserta dari berbagai daerah dan dari berbagai kesatuan atau lembaga.

Melihat sistem pendidikannya yang ketat dan padat serta tugas yang dipastikan selalu datang silih berganti, tidak ada pilihan selain harus fokus dan fokus. Masa pendidikan selama 7 bulan, harus mampu dijalani semua peserta dengan baik.

Dengan semua fasilitas yang disiapkan pemerintah, malu rasanya jika sampai tidak selesai menuntaskan studi di tempat ini. Dari mulai mess dengan fasilitas lengkap, termasuk diberikan pinjaman laptop. Juga fasilitas pusat kebugaran hingga mandi uap. Semua disediakan untuk peserta.

Maka tak berlebihan jika saya menyampaikan ungkapan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh direksi dan manajemen Kaltim Post Group, tempat saya bekerja, yang memberikan kesempatan saya mengikuti proses pendidikan ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru